From Rosoboronexport with Buk-M2E

Posted by Foxtron Group 5 komentar
Sistem Pertahanan Rudal Buk-M2E Rusia (photo:Rosoboronexport)
Sistem Pertahanan Rudal Buk-M2E Rusia (photo:Rosoboronexport)

JAKARTA ( MilNas ) - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro akhirnya mengumumkan rencana pembelian kapal selam dari Rusia, untuk memperkuat armada TNI AL. Rencana ini ditindaklanjuti dengan mengirim Tim TNI AL ke Rusia pada pertengahan Januari 2014, untuk melihat tawaran apakah mengambil kapal selam bekas/refurbish atau yang baru.

Dubes Rusia untuk Indonesia menemani perwakilan RosoboronExport bertemu Menhan Purnomo Yusgiantoro di jakarta 6/12/2013 (Antara)
Dubes Rusia untuk Indonesia menemani perwakilan RosoboronExport bertemu Menhan Purnomo Yusgiantoro di jakarta 6/12/2013 (Antara)


Pernyataan ini disampaikan Menteri Pertahanan usai bertemu dengan Perwakilan RosoboronExport yang ditemani Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Yurievich Galuzin di Kantor Kemenhan, 6/12/2013.
Dengan dibelinya kapal selam Kilo Class dan Amur dari Rusia, menunjukkan rencena-rencana pembelian seperti yang tercatat di SIPRI maupun yang ditawarkan Rusia, terpenuhi sudah.

Dari pola ini terlihat, walau TNI mengejar transfer teknologi dalam pengadaan alutsista, namun tidak melupakan kualitas. Alutsista yang berkualitas tetap dibeli sambil memburu ToT dari berbagai negara, termasuk Rusia.

Berbicara alutsista yang berkualitas jika dikaitkan sistem pertahanan udara, negara Rusia bisa dikatakan yang terdepan untuk urusan teknologi ini. Sistem pertahanan Rusia berkembang pesat dan semakin matang. Mereka pun terus meningkatkannya dengan  membangun S-500 yang memiliki jarak tembak 600 km dan bisa membidik setiap benda yang terbang di udara.

Indonesia memang sedang mencari sistem pertahanan udara, antara lain untuk menjaga Ibukota Negara. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin saat bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Pertemuan tanggal 21/8/2013 itu membahas sinergi antara Kementerian Pertahanan dan Pemerintah DKI Jakarta dalam pembangunan ruang bawah tanah di Monas yang akan diintegrasikan dengan sistem pengamanan Ibukota, termasuk pertahanan udara.

Ide pembangunan sistem pertahanan udara yang modern ini, bisa jadi sudah didengar RosoboronExport, beberapa waktu sebelumnya.

9K317E Buk M2E / MZKT-6922 battery component models (Zhuhai Imagery)
9K317E Buk M2E / MZKT-6922 battery component models (Zhuhai Imagery)

Pada Indo Defence 2012, RosoboronExport menawarkan sistem pertahanan udara modern bagi Indonesia. Sitem pertahanan rudal yang ditawarkan adalah integrasi air defence system yang menggabungkan sistem pertahanan rudal jarak menengah BUK-M2E dengan sistem pertahanan rudal/senjata jarak pendek Pantsir-S1.

Pakar RosoboronExport meyakini konfigurasi sistem itu akan secara efektif melindungi obyek-obyek vital militer maupun instalasi lainnya dari potensi serangan udara musuh, termasuk serangan udara yang masif.
Buk-M2E (nama di NATO: SA-17 Grizzly) merupakan sistem medium-range surface-to-air missile (SAM) bergerak, yang didisain untuk melindungi pasukan maupun instalasi/bangunan dari ancaman serangan udara. SA=17 Grizzly merupakan upgrade dari sistem pertahanan udara bergerak versi Buk-M1 yang sudah combat proven.

Buk-M2E dibuat untuk menetralisir serangan masif dari pesawat tempur taktis maupun strategis, rudal balistik taktis, rudal jelajah, rudal pesawat tempur, bom pintar, helikopter, termasuk hovering rotorcraft, UAV, meski Buk-M2E mendapatkan serangan electronic countermeasures yang gencar.

Sistem Pertahanan rudal/enjata jarak pendek mobile,Pantsir-S1 Rusia (SA-8 Greyhound
 Sistem Pertahanan rudal/senjata jarak pendek mobile,Pantsir-S1 Rusia (SA-8 Greyhound
Pantsir-S1
  Pantsir-S1

Adapun Pantsir-S1 (NATO: SA-8 Greyhound) merupakan sistem pertahanan udara berbasis rudal/senjata yang didisain untuk melindungi areal-areal yang vital, big military areas, target industri dan unit pasukan darat. Pantsir-S1 memperkuat unit pertahanan udara dalam melindungi pasukan maupun instalasi militer dari serangan udara presisi, baik di ketinggian rendah maupun extreme low altitudes.

Sepertinya, Kementerian Pertahanan dan TNI sedang menjajaki sistem rudalpertahanan modern dari Rusia itu. Sekali lagi, menjajaki. Penjajakan ini dimulai dengan datangnya perwakilan RosoboronExport ditemani Duta Besar Rusia untuk Indonesia, menghadap Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro di Jakarta.

(JKGR).

Baca Selengkapnya ....

TNI AD Akan Mendapatkan 1 Batalion Meriam Tarik KH-179 Kaliber 155mm

Posted by Foxtron Group 0 komentar
JAKARTA ( MilNas ) - KH-179 howitzer tarik 155mm dengan berat 6,9 ton dengan jarak jangkau 22 km dengan Normal HE Projectiles  atau 30 km dengan Rocket-Assisted Projectile (photo : Militaryphotos)

Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini berbicara mengenai alat utama sistem senjata, profesionalisme dan kesejahteran prajurit, serta netralitas TNI.

Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya Angkatan Darat, terus berupaya meningkatkan kualitas maupun kuantitas alat utama sistem senjata (alutsista). Sebagai pengawal kedaulatan negara, wajar jika TNI dibekali persenjataan yang canggih. Selain senjata, TNI, khususnya Angkatan Darat juga berupaya meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan prajurit.

Untuk mengetahui lebih jauh soal ini, wartawan Koran Jakarta, Marcellus Widiarto, Wandi Yusuf, dan Mochamad Ade Maulidin mewawancarai Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Budiman, di rumah dinasnya, di Jakarta, Kamis (5/11) malam lalu.

Masih mengenakan pakaian dinas lengkap, Jenderal yang kerap bertutur kata lembut dan bicaranya terstruktur ini, juga bercerita mengenai berbagai persoalan yang dihadapi prajurit TNI AD. Berikut wawancara selengkapnya.

Kini alutsista TNI AD sudah semakin canggih. Apakah sebagian besar merupakan produk dalam negeri?

Untuk alutsista, kebetulan prioritas kita di TNI AD adalah mengupayakan produk dalam negeri. Nah, dari berbagai penambahan alutsista, umumnya alutsista ini untuk menggantikan alutsista-alutsista yang sudah terlalu tua. Dan bahkan ada alutsista yang umurnya lebih tua dari saya.

Kita coba lihat dari alutsista infanteri. Hampir 95 persen adalah produk dalam negeri. Mulai dari senjata laras pendek, laras panjang, senapan mesin, mortir, sampai kendaraan taktis (rantis) Anoa, dan rantis Komodo. Itu semua produk dalam negeri.

Yang masih didatangkan dari luar seperti anti-tank guided missile (ATGM). Peluru yang pakai guided masih ada yang harus dibeli dari luar. Tapi, untuk satuan infanteri hampir keseluruhan sudah (produk dalam negeri). Untuk rantis Anoa mungkin kita masih terbatas. Tapi, secara keseluruhan sudah lebih dari 70 persen. Ini artinya, kita sudah modern kalau dihitung dari kebutuhannya berapa. Tank Marder juga masih kita beli dari luar. Marder itu adalah Infanteri Fighting Vehicle.

Bagaimana dengan satuan kavaleri?

Untuk kavaleri kita beli tank Leopard. Leopard adalah main battle tank terbaik di dunia. Kita beli untuk Leopard 2A4 sebanyak 1 batalion atau 42 unit. Kita juga beli Leopard 2 Revolution atau RI. Tank itu sebanyak 1 batalion plus 1 kompi. Jumlahnya sebanyak 42 tank ditambah 13, jadi ada sebanyak 55 unit.

Kemudian, kami juga melengkapi Leopard yang digunakan untuk jembatan, zeni, dozer, excavator, dan recovery. Basic mesinnya juga dari Leopard. Tank jenis ini ada sekitar 13–15 unit. Jumlah Marder sendiri ada sekitar 50 unit.

KH-178 howitzer tarik 105mm (photo : Defense Studies)

Untuk artileri medan (Armed)?

Untuk Armed itu cukup banyak (membeli dari luar). Kita membeli multi launch rocket system (MLRS). Itu untuk 2 batalion. MLRS ini kita beli yang Avibras buatan Brasil dengan daya jangkau lebih dari 100 km. Kemudian, areal kehancuran mencapai 4 hektare dan jenis kehancurannya menyeluruh dan mematikan.

Ini setara dengan Himars-nya Amerika Serikat atau buatan Rusia. Ini seimbang. Bedanya, kita menggunakan untuk kepentingan kedaulatan, sedangkan Himars untuk kepentingan terorisme dan akurasinya sangat tinggi.

Kita juga membeli Caesar atau meriam 155 Howitzer. Meriam ini bisa masuk pada kedudukan siap tembak hanya dalam 2 menit. Jarak tembak maksimal mencapai 42 km. Peluru belum sampai, dia sudah bisa tinggalkan tempat. Dalam prinsip perang artileri lawan artileri, sebelum musuh tahu, kita sudah harus bisa pindah. Jumlahnya sebanyak 2 batalion.

Kita juga beli juga meriam 155mm KH179 buatan Korea Selatan sebanyak 1 batalyon. Ada juga meriam 105mm KH178 Armed Korea Selatan sebanyak 3 batalyon.

Untuk penangkis serangan udara, kita membeli 9 baterai Mistral sebanyak 3 batalyon. Mistral ini memang digunakan untuk jarak pendek. Probabilitasnya mencapai 96 persen kemungkinnan kena. Jadi hanya human error yang membuat dia meleset. Kita juga akan membeli 5 detasemen Starstreak. Tapi, ini masih dalam proses.

Lalu, bagaimana dengan pengadaan helikopter?

Helikopter kita masih akan datang 16 unit Bell 412 dan 12 unit heli serang Fennec dan 8 unit heli Apache. Apache ini direncanakan akan datang pada 2017. Dan sesuai kontrak, Bell dan Fennec tinggal tunggu datang. Dipastikan sudah ada 80 persen pada 2014.Yang belum kita beli adalah peralatan untuk satuan Zeni dan bantuan lainnya. Pada satuan ini pembelian lebih pada tembakan fire precision. Mungkin akan kita lengkapi pada tahun anggaran selanjutnya.

Apakah semua ini sudah bisa memenuhi minimum essential forces (MEF)?

Kalau kita lihat MEF sudah bisa mencapai keseluruhan 30 persen. Tapi, nanti setiap orang ngomongnya berbeda karena bergantung dari sudut mana dia membuat satu penilaian. Kalau untuk penilaian sampai 2014, kita sudah memenuhi. Itu sebabnya kekuatan kita cukup lumayan diperhitungkan di Asia Tenggara.

Pada dasarnya kita memprioritaskan alutsista dalam negeri untuk menghemat devisa, tapi pada teknologi yang belum mampu, kita harus beli dari luar. Kebijakan yang akan datang, kalau kita membeli harus dilakukan alih teknologi. Paling tidak menjadi joint production (produksi bersama). Ini sesuai dengan UU tentang Industri Pertahanan.

Bagaimana dengan sumber daya prajuritnya, apakah sudah siap untuk mengawaki alutsista canggih tersebut?

Kebetulan semenjak saya masih Dan Kodiklat, untuk pendidikan kita sudah menuju pada era teknologi informasi. Komputerisasi. Jadi, dari 2010 kita sudah memulai setiap prajurit sudah menggunakan komputer dalam proses belajar-mengajar. Paling tidak dia sudah tak gaptek (gagap teknologi) lagi.

Khusus personel yang akan mengawaki alat-alat canggih, kita lakukan psikotes ulang. Baik pada skala IQ maupun EQ sehingga betul-betul seusuai peruntukan. Proses ini sedang dan sudah kita lakukan.

Kemudian, mulai ke depan, rekrutmen akan sangat memperhatikan kualitas intelektual selain kepribadian. Jasmani nanti kita bimbing. Kalau dapat yang memang larinya (fisiknya) bagus, itu lebih baik. Tapi dengan kita bimbing secara bertahap, kita yakin bisa. Yang penting modal otak dulu yang kita prioritaskan.

Selain itu, kita sedang membuat pokja yang menyiapkan piranti lunak dalam bentuk doktrin, petunjuk lapangan, petunjuk teknis, dan sebagainya. Kemudian, untuk sektor pendidikan sudah kita kirim ke negara pembuat (alutsista). Para calon pelatih kita prioritaskan kirim ke sana supaya hemat. Kalau kita kirim semua percuma, lebih baik para calon pelatihnya saja. Dan ini sudah berjalan, termasuk penyiapan kelengkapan seperti garasi hingga aturannya. Sudah kita siapkan semuanya.

See full article : Koran Jakarta

Baca Selengkapnya ....

KSAL Sampaikan Rencana Tambahan Alutsista dan Pemekaran Organisasi

Posted by Foxtron Group 0 komentar
Korps Marinir akan mendapatkan tambahan kendaraan tempur 5 unit BTR-4 dan 37 unit tank BMP-3F (photo : KMDB)

Kasal: Tingkatkan Kekuatan, TNI AL Tambah Alutsista

Surabaya ( MilNas ) - Untuk terus meningkatkan kemampuan tempur prajurit, serta memperkuat pertahanan NKRI, Tentara Nasional Inonesia Angkatan laut (TNI AL) akan terus meningkatkan Alutsista yang ada. Sejauh ini TNI AL terus berupaya untuk meningkatkan persenjata yang dimiliki, agar kekuatan yang dimiliki semakin diperhitungkan oleh negara-negara tetangga.

Laksamana TNI Marsetio Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) mengatakan, dalam proses pemenuhan Kekuatan Pokok Minimum atau MEF (Minimum Essential Force), dilaksanakan pengembangan organisasi dan pembangunan alutsista. Untuk pengembangan organisasi dilaksanakan validasi organisasi yang bertujuan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien yang saat ini sedang dalam proses menunggu Keputusan Presiden.

"Kita tetap merencanakan tiga Komando Armada di bawah Komando Pertahanan Laut, tiap Armada membawahi Guspurla dan Guskamla. Sedangkan Lantamal yang akan dikembangkan menjadi 14 di bawah kendali langsung Kohanla RI. Untuk proyeksi kekuatan ke darat, akan dikembangkan 3 Divisi Marinir, 3 Satlinlamil dan 3 Wing Udara," kata Laksamana TNI Marsetio kepada wartawan, Kamis (5/12/2013).


Seiring dengan tambahan beberapa LST maka Satuan Lintas Laut Militer akan dimekarkan menjadi 3, demikian juga Penerbangan Angkatan Laut akan dimekarkan menjadi 3 Wing Udara dan Korps Marinir menjadi 3 Divisi (photo : Kaskus Militer)

Dia menambahkan, untuk pembangunan alutsista TNI AL akan melakukan pengadaan alutsista yang mengedepankan pemanfaatan industri dalam negeri, agar dapat memberikan dampak positif untuk mewujudkan kemajuan dan kemandirian alutsista nasional. "Sampai dengan tahun 2013, TNI AL sedang membangun alutsista dari luar negeri, yaitu 3 unit Kapal Selam Diesel Electric dimana Kapal Selam ke tiga akan dibangun di Galangan PT. PAL Indonesia," ujarnya.

Selain kapal Selam, kata Kasal, juga akan dilakukan pengadaan 3 Kapal Multi Role Light Fregate (MRLF), 2 unit Kapal PKR, 2 unit Kapal Bantu Hidro Oceanografi (BHO), 1 unit Kapal Latih, 37 Unit Tank Amfibi BMP-3F dan 5 Unit BTR-4.

Untuk pengadaan dari dalam negeri terdiri dari 3 Unit Kapal Patroli 43 meter, 3 Unit Kapal Cepat Rudal 60 meter, 2 Unit Kapal Bantu Cair Minyak, 1 Unit Trimaran, 3 Unit KCR 40 meter, 3 Unit Kapal Angkut Tank, 2 Unit Pesud CN-235 MPA, 11 Unit Heli AKS, 3 Unit Heli Angkut dan 4 Unit Pesawat Latih.

Sekadar diketahui, dalam upacara peringatan HUT Armada RI yang dipusatkan di Koarmatim tadi, dilakukan pula penyerahan tanda kehormatan Satya Lencana Kesetiaan 32 Tahun, 24 Tahun, 16 Tahun dan 8 Tahun kepada perwakilan prajurit yang berhak menerima, serta pemberian Penghargaan Bendera KRI Teladan dari Kasal kepada KRI yaitu Teladan I di terima KRI Frans Kaisiepo-368 milik Satkor Koarmatim, Teladan II diterima KRI Patiunus-384 milik Satkor Koarmabar, dan Teladan III KRI Banda Aceh-593 milik Satlinlamil Jakarta.

(Suara Surabaya)

Baca Selengkapnya ....

Indonesia produksi perahu terbang pertama Rp1,5 M

Posted by Foxtron Group 1 komentar
http://static6.com/201310/flying-boad-131014b.jpg
Jakarta ( MilNas ) -  Indonesia berhasil menciptakan perahu terbang pertama berkapasitas empat penumpang, bernama Flying Boat Gever-OS.

Kehadiraan perahu ini diharapkan bisa menjadi kendaraan alternatif bagi masyarakat Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

Perancang Flying Boat Gever-OS, Erid Rizki mengungkapkan, perahu tersebut dapat terbang hingga ketinggian 150 meter di atas permukaan laut. Kecepatan kendaraan ini cukup tinggi mencapai 400 km/jam.

"Flying boat dapat menempuh perjalanan selama 3-4 jam dari Tanjung Priok ke Surabaya (Tanjung Perak)," terang Erid saat launching Flying Boat Gever OS, yang bertepatan dengan HUT Indonesia Maritime Institute (IMI) ke-3 di Gedung Balai Kartini, Jakarta, Senin (14/10/2013).

Komponen perahu terbang produksi IMI ini 35 persen berasal dari dalam negeri, sisanya mesin dari luar negeri. Bobot penuh dengan penumpang maksimal 900 kilogram.

Rencananya, perahu terbang ini akan diluncurkan kembali pada April mendatang, untuk kebutuhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, pada peluncuran perdananya perahu seharga Rp1,5 miliar ini sudah mendapat pesanan.

  ♞ Sindo  

Baca Selengkapnya ....

Mantan Panglima TNI Anjurkan Jangan Beli Kapal Selam Bekas

Posted by Foxtron Group 0 komentar
Jakarta ( MilNas ) -  Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purnawirawan) Endriartono Sutarno menganjurkan pemerintah Indonesia menghindari membeli kapal selam bekas, karena berpotensi membengkaknya biaya perawatan setelah pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) tersebut.

"Sebaiknya kalau mau beli, jangan yang bekas. Karena potensi besaran biaya pemeliharaan dan perawatannya akan menjadi lebih mahal," kata Endriartono kepada Antara di Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (8/12).

Pernyataan tersebut menanggapi adanya penawaran kepada Indonesia untuk membeli kapal selam Kilo Class bekas buatan Rusia.

Menurut Endriartono, pada dasarnya pembelian ataupun pembuatan alutsista akan selalu diiringi dengan anggaran yang harus disiapkan untuk melakukan pemeliharaan pada saat mulai dioperasikan.

"Biaya itu setiap tahunnya akan meningkat sesuai dengan umur alatnya. Itu harus juga diperhitungkan," ujar Endriartono.

"Kalau sampai jatuhnya angka perawatan ini bisa setara dengan biaya untuk membuat atau membeli yang baru, kan pasti lebih baik yang baru," katanya menambahkan.

Berkaitan dengan itu, Endriartono juga mempertanyakan kejelasan pola anggaran militer di Indonesia, khususnya menyangkut pos pemeliharaan dan perawatan alutsista. Sebab, hal itu masih belum jelas hingga sampai saat ini.

Ketidakjelasan itu diperlihatkan dengan hobi Indonesia menerima hibah-hibah alutsista dari negara-negara sahabat, ujar Endriartono.

Bagi Endriartono, kebutuhan peremajaan alutsista harus memperhatikan aspek umur alat yang akan dibeli.

"Kecuali kalau kita memang sedang ada keadaan darurat menjelang perang dengan pihak-pihak tertentu, itu baru silakan ambil yang sudah ditawarkan. Terlepas dari itu bekas ataupun apa, selama siap pakai harus diambil karena menyangkut darurat pertahanan," ujarnya.

"Bahkan, kalau dalam keadaan perang tentunya semua anggaran akan diarahkan untuk pertahanan kan," Endriartono menambahkan.

Sebelumnya, pada hari Jumat (6/12), Kementerian Pertahanan RI menyatakan akan mengirimkan tim khusus untuk melihat secara fisik kondisi kapal selam Kilo Class bekas buatan Rusia yang ditawarkan kepada Indonesia.

"Ini merupakan kerja sama lanjutan antara Indonesia dan Rusia, dari Angkatan Laut, kami akan kirim tim ke Rusia untuk melihat kondisi kapal selam Kilo Class," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Menurut dia, Indonesia memiliki dua pilihan untuk memperkuat armada laut nasional, khususnya pengadaan kapal selam, yakni pertama, mendatangkan kapal selam kilo class bekas buatan Rusia, dan opsi kedua, membangun kapal selam baru berteknologi Korea.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana (TNI) Marsetio menjelaskan bahwa Indonesia telah memiliki dua kapal selam buatan Jerman, dan saat ini tengah dilaksanakan pembangunan tiga unit kapal selam atas kerja sama dengan Korea Selatan.

  ♞ Suara Pembaruan  

Baca Selengkapnya ....

Wawancara Bersama KASAD Jenderal TNI Budiman

Posted by Foxtron Group 0 komentar
http://jurnalpatrolinews.com/wp-content/uploads/2013/11/Kepala-Staf-TNI-Angkatan-Darat-KSAD-Jenderal-TNI-Budiman.jpg
Jakarta ( MilNas ) -  Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini berbicara mengenai alat utama sistem senjata, profesionalisme dan kesejahteran prajurit, serta netralitas TNI.

Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya Angkatan Darat, terus berupaya meningkatkan kualitas maupun kuantitas alat utama sistem senjata (alutsista). Sebagai pengawal kedaulatan negara, wajar jika TNI dibekali persenjataan yang canggih. Selain senjata, TNI, khususnya Angkatan Darat juga berupaya meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan prajurit.

Untuk mengetahui lebih jauh soal ini, wartawan Koran Jakarta, Marcellus Widiarto, Wandi Yusuf, dan Mochamad Ade Maulidin mewawancarai Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Budiman, di rumah dinasnya, di Jakarta, Kamis (5/11) malam lalu.

Masih mengenakan pakaian dinas lengkap, Jenderal yang kerap bertutur kata lembut dan bicaranya terstruktur ini, juga bercerita mengenai berbagai persoalan yang dihadapi prajurit TNI AD. Berikut wawancara selengkapnya.

Kini alutsista TNI AD sudah semakin canggih. Apakah sebagian besar merupakan produk dalam negeri?

Untuk alutsista, kebetulan prioritas kita di TNI AD adalah mengupayakan produk dalam negeri. Nah, dari berbagai penambahan alutsista, umumnya alutsista ini untuk menggantikan alutsista-alutsista yang sudah terlalu tua. Dan bahkan ada alutsista yang umurnya lebih tua dari saya.

Kita coba lihat dari alutsista infanteri. Hampir 95 persen adalah produk dalam negeri. Mulai dari senjata laras pendek, laras panjang, senapan mesin, mortir, sampai kendaraan taktis (rantis) Anoa, dan rantis Komodo. Itu semua produk dalam negeri.

Yang masih didatangkan dari luar seperti anti-tank guided missile (ATGM). Peluru yang pakai guided masih ada yang harus dibeli dari luar. Tapi, untuk satuan infanteri hampir keseluruhan sudah (produk dalam negeri). Untuk rantis Anoa mungkin kita masih terbatas. Tapi, secara keseluruhan sudah lebih dari 70 persen. Ini artinya, kita sudah modern kalau dihitung dari kebutuhannya berapa. Tank Marder juga masih kita beli dari luar. Marder itu adalah infanteri fighting vehicle.

Bagaimana dengan satuan kavaleri?

Untuk kavaleri kita beli tank Leopard. Leopard adalah main battle tank terbaik di dunia. Kita beli untuk Leopard 2A4 sebanyak 1 batalion atau 42 unit. Kita juga beli Leopard 2 Revolution atau RI. Tank itu sebanyak 1 batalion plus 1 kompi. Jumlahnya sebanyak 42 tank ditambah 13, jadi ada sebanyak 55 unit.

Kemudian, kami juga melengkapi Leopard yang digunakan untuk jembatan, zeni, doser, eksavator, dan recovery. Basic mesinnya juga dari Leopard. Tank jenis ini ada sekitar 13–15 unit. Jumlah Marder sendiri ada sekitar 50 unit.

Untuk artileri medan (Armed)?

Untuk Armed itu cukup banyak (membeli dari luar). Kita membeli multi launch rocket system (MLRS). Itu untuk 2 batalion. MLRS ini kita beli yang Avibras buatan Brasil dengan daya jangkau lebih dari 100 km. Kemudian, areal kehancuran mencapai 4 hektare dan jenis kehancurannya menyeluruh dan mematikan.

Ini setara dengan Himars-nya Amerika Serikat atau buatan Rusia. Ini seimbang. Bedanya, kita menggunakan untuk kepentingan kedaulatan, sedangkan Himars untuk kepentingan terorisme dan akurasinya sangat tinggi.

Kita juga membeli Caesar atau meriam 155 Howitzer. Meriam ini bisa masuk pada kedudukan siap tembak hanya dalam 2 menit. Jarak tembak maksimal mencapai 42 km. Peluru belum sampai, dia sudah bisa tinggalkan tempat. Dalam prinsip perang artileri lawan artileri, sebelum musuh tahu, kita sudah harus bisa pindah. Jumlahnya sebanyak 2 batalion.

Kita juga beli juga meriam 155 KH179 buatan Korea Selatan sebanyak 1 batalyon. Ada juga meriam 105 Armed Korea Selatan sebanyak 3 batalyon. Untuk penangkis serangan udara, kita membeli 9 baterai Mistral sebanyak 3 batalyon. Mistral ini memang digunakan untuk jarak pendek. Probabilitasnya mencapai 96 persen kemungkinnan kena. Jadi hanya human error yang membuat dia meleset. Kita juga akan membeli 5 detasemen starstreak. Tapi, ini masih dalam proses.

Lalu, bagaimana dengan pengadaan helikopter?

Helikopter kita masih akan datang 16 unit Bell 412 dan 12 unit heli serang Fennec dan 8 unit Heli Apache. Apache ini direncanakan akan datang pada 2017. Dan sesuai kontrak, Bell dan Fennec tinggal tunggu datang. Dipastikan sudah ada 80 persen pada 2014. Yang belum kita beli adalah peralatan untuk satuan Zeni dan bantuan lainnya. Pada satuan ini pembelian lebih pada tembakanfire precision. Mungkin akan kita lengkapi pada tahun anggaran selanjutnya.

Apakah semua ini sudah bisa memenuhi minimum essential forces (MEF)?

Kalau kita lihat MEF sudah bisa mencapai keseluruhan 30 persen. Tapi, nanti setiap orang ngomongnya berbeda karena bergantung dari sudut mana dia membuat satu penilaian. Kalau untuk penilaian sampai 2014, kita sudah memenuhi. Itu sebabnya kekuatan kita cukup lumayan diperhitungkan di Asia Tenggara.

Pada dasarnya kita memprioritaskan alutsista dalam negeri untuk menghemat devisa, tapi pada teknologi yang belum mampu, kita harus beli dari luar. Kebijakan yang akan datang, kalau kita membeli harus dilakukan alih teknologi. Paling tidak menjadi joint production (produksi bersama). Ini sesuai dengan UU tentang Industri Pertahanan.

Bagaimana dengan sumber daya prajuritnya, apakah sudah siap untuk mengawaki alutsista canggih tersebut?

Kebetulan semenjak saya masih Dan Kodiklat, untuk pendidikan kita sudah menuju pada era teknologi informasi. Komputerisasi. Jadi, dari 2010 kita sudah memulai setiap prajurit sudah menggunakan komputer dalam proses belajar-mengajar. Paling tidak dia sudah tak gaptek (gagap teknologi) lagi.

Khusus personel yang akan mengawaki alat-alat canggih, kita lakukan psikotes ulang. Baik pada skala IQ maupun EQ sehingga betul-betul seusuai peruntukan. Proses ini sedang dan sudah kita lakukan.

Kemudian, mulai ke depan, rekrutmen akan sangat memperhatikan kualitas intelektual selain kepribadian. Jasmani nanti kita bimbing. Kalau dapat yang memang larinya (fisiknya) bagus, itu lebih baik. Tapi dengan kita bimbing secara bertahap, kita yakin bisa. Yang penting modal otak dulu yang kita prioritaskan.

Selain itu, kita sedang membuat pokja yang menyiapkan piranti lunak dalam bentuk doktrin, petunjuk lapangan, petunjuk teknis, dan sebagainya. Kemudian, untuk sektor pendidikan sudah kita kirim ke negara pembuat (alutsista). Para calon pelatih kita prioritaskan kirim ke sana supaya hemat. Kalau kita kirim semua percuma, lebih baik para calon pelatihnya saja. Dan ini sudah berjalan, termasuk penyiapan kelengkapan seperti garasi hingga aturannya. Sudah kita siapkan semuanya.

Sejauh ini, apakah minat masyarakat untuk menjadi prajurit TNI masih cukup tinggi?

Untuk tingkat tamtama dan bintara kita tak kesulitan karena peminatnya masih banyak, dan di antara orang kampung banyak yang pandai. Mereka umumnya tak tahu bahwa dirinya itu pandai sehingga mereka masuk tamtama atau bintara. Begitu dites IQ-nya sebetulnya tinggi.

Kalau untuk perwira, karena keinginan untuk perwira harus macam-macam, kita harus proaktif datang ke berbagai tempat. Seperti datang ke sekolah bagus dan hebat. Kita coba merekrut dari situ.

Akan sangat membantu apabila media massa mau membantu menempatkan TNI pada tempat yang baik sehingga keinginan masyarakat Indonesia untuk menjadi TNI semakin besar dan kita bisa menyeleksi yang terbaik.

Bagaimana penilaian Anda mengenai beberapa prajurit yang kadang berantem dengan polisi. Lalu, apa pula tanggapan soal kasus Cebongan?

Tentunya kita menyadari, prajurit saya ada hampir 350 ribu orang. Dari jumlah itu, kalau dalam satu keluarga biasanya ada satu yang nyeleneh, maka saya masih beruntung. Rata-rata dalam 350 ribu prajurit, saya memecat antara 50–70 orang. Rata-rata 60 orang. Jika kita lihat dari jumlah personel, perbandingannya 0,2 permil. Sangat kecil.

Dilihat dari rekrutmen per tahun yang mencapai 10 ribu personel, maka kegagalan kita hanya 6 per mil atau 0,6 persen dari 60 personel yang dipecat. Tapi, kita akan berusaha terus menekan ini. Dan itu semua bergantung kondisi masyarakat saat rekrutmen. Kalau lingkungan masyarakat menempatkan TNI pada posisi yang baik, kita akan mendapatkan prajurit yang baik juga.

Untuk masalah kenakalan, begini. Filosofi mendidik tentara adalah bagaimana mampu bertahan hidup di dalam satu pertempuran. Membunuh atau dibunuh. Itu filosofi pendidikannya, sehingga saya harus mendidik dan menjadikan prajurit saya seorang warrior yang fighting spirit-nya tinggi.

Ini tentu berisiko. Mungkin menjadikan sifatnya keras dan lebih galak. Nah, di satu sisi dia harus sopan kepada masyarakat. Itu tantangan tersulit bagi kita, tapi ini yang menarik. Kalau kita bisa mendidikan jagoan perang sekaligus baik kepada masyarakat, itu yang kita upayakan. Kita tengah berupaya mencetak prajurit yang tidak mudah tersinggung, marah, dan emosi.

Untuk kasus Cebongan, permasalahannya adalah bagaimana seorang bawahan melihat atasan yang pernah menyelamatkan nyawanya, kemudian dibunuh secara keji. Dan dia punya kemampuan seperti itu (warrior).

Sedangkan untuk kasus prajurit yang berkelahi, pada umumnya mereka merupakan prajurit yang nakal. Lalu, ketemu dengan polisi yang nakal juga. Selalu begitu. Dan setelah kita periksa, anak buah ini nakalnya bukan main.

Khusus bentrokan di Karawang, kasusnya beda juga. Seorang prajurit baru saja ikut pertandingan maraton. Dia diberi istirahat oleh komandannya. Dia mengantar istrinya yang kerja di Pemda. Lalu, bertemu dengan konvoi polisi. Dia sudah minggir dan melihat. Tapi, malah dipelototin. Selanjutnya, sejumlah polisi turun dan memukul. Sudah mengaku sebagai tentara pun masih dipukul. Akhirnya, kawan-kawannya mendengar dan tak terima dengan perlakuan itu. Dia cari polisi yang memukul itu. Ternyata tak dapat. Yang saya sesalkan, dia melakukan tindakan yang tak pada tempat semestinya.

Pada dasarnya prajurit tak boleh harga dirinya direndahkan. Prajurit itu kalau direndahkan akan menunjukkan satu sikap bertahan. Karena dia harus rela berkorban untuk sesuatu yang dia cita-citakan. Itu risiko dari suatu pendidikan. Ini juga tantangan buat kami. Mudah-mudahan kita bisa menciptakan “harimau” yang sopan di kala bersama masyarakat.

Apakah ada kesulitan menciptakan “harimau” yang sopan di masyarakat?

Kesulitannya, lingkungan masyarakat pun harus menjadi contoh teladan. Situasi kehidupan politik, sosial, dan bidang lainnya amat memengaruhi sikap para prajurit.

Sebentar lagi Pemilu dan sebagian calon (presiden) juga merupakan purnawirawan TNI yang pernah sangat dekat dengan prajurit. Bagaimana menjaga netralitas TNI AD?

Untuk anggota TNI, kita tak punya hak pilih dan tak menjalankannya. Untuk keluarga memiliki hak pilih. Dan itu diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk menggunakan hak pilihnya dengan baik dan cerdas. Cerdas di sini adalah dia memilih pemimpin yang bisa membawa kemajuan bagi negara dan bangsa tanpa harus melihat asal muasal.

Kepada prajurit TNI saya mengimbau tak boleh terlibat politik praktis. Kita pernah melaksanakan Pemilu 2004. Walaupun ada yang mencoba mengajak untuk tidak netral, kita tetap bisa netral.

Dan saya jamin pada Pemilu 2014 TNI akan tetap netral karena saya terlibat di dalamnya. Pada Pemilu 2009 terbukti TNI sangat netral.

Dan kalau pada Pemilu 2014 ada anggota TNI yang coba-coba tak netral, kerugian sosialnya terlalu tinggi. Di saat masyarakat dan prajurit sudah pandai, hanya kebodohan kalau kita mau bersikap tidak netral. Jadi, saya percaya dan berharap kepada prajurit saya untuk tetap netral dan tak terlibat politik. Mereka juga harus mampu untuk tak dipengaruhi siapa pun. Dan kami memohon untuk pihak lain agar tak mengiming-imingi prajurit kami.

Sejauh ini apakah sudah ada laporan ada pihak yang mengiming-imingi?

Sampai dengan hari ini belum ada yang mencoba mengiming-imingi.

Bagaimana caranya agar prajurit semakin profesional?

Saya sekarang sedang mengumpulkan 200 perwira muda yang potensial dan hebat. Saya merekrut dari setiap angkatan, mulai dari tamatan 1984 sampai 2003. Ada sekitar 20 angkatan yang masing-masing diambil 10 prajurit terbaik.

Mereka akan dihadapkan pada satu tim pokja yang dibagi menjadi tiga, yakni pokja pertempuran, pokja teritorial, dan pokja dukungan. Setiap pokja dipimpin oleh tiga calon prajurit yang kelak akan menggantikan saya.

Mereka diminta mendesain kemungkinan ancaman 20 tahun ke depan sehingga akan seperti apa postur TNI AD 20 tahun mendatang. Agar lebih terukur, kita akan tarik mundur pada setiap 5 tahun. Mereka akan diuji bagaimana membuat grand design per lima tahun. Simulasi ini akan lebih mendetail meliputi taktik, strategi, hingga penguasaan teritorial. Dan bagaimana mereka menghadapi ancamansoft power. Itu kita siapkan. Baik dari dukungan intelijen, operasional, personel, manejemen logistik, hingga pengadaan, sehingga ke depan kita bisa lebih sempurna lagi, baik dari planning jangka pendek, menengah, dan panjang.

Untuk hari ke hari sampai akhir 2014, saya akan memanfaatkan uang yang diberikan negara secara efisien dan efektif, sehingga kita dapat transparan kepada anggota dan rakyat. Uang yang diberi rakyat melalui APBN harus bisa dipertanggungjawabkan dengan baik.

Bagaimana dengan kesejahteraan prajurit?

Untuk ksejahteraan. Saat ini prajurit terendah kita dengan 0 tahun, seperti prada, take home pay-nya mencapai 3,9 juta rupiah per bulan. Itu sudah termasuk gaji ke-13, remunerasi, dan uang lauk-pauk. Tapi, prajurit itu juga punya kenaikan berkala setiap tahun. Saat kenaikan pangkat, naik lagi, termasuk saat peningkatan golongan karena mendapat remunerasi tambahan. Saya pikir itu cukup untuk hidup sederhana. Ketika sudah berpangkat kopral kepala, sudah cukup untuk menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi negeri. Dengan catatan mereka menghemat.

Kemudian untuk perumahan, prajurit di satuan tempur semua disiapkan. Untuk satuan teritorial secara bertahap disiapkan. Kita berupaya antara kantor dengan rumah jaraknya dekat. Untuk itu kita bangun apartemen untuk para paban.

Sebagai contoh, di Pejambon, kita sudah membeli lahan dari gereja untuk kita buat beberapa tower. Khusus untuk bintara, tamtama, dan PNS TNI AD akan kita usahakan membuat tower di Cempaka Putih, dan sebagainya. Jadi, kalau untuk kesejahteraan, alhamdulillah negara sudah cukup memberi perhatian.

Jadi tak ada alasan lagi untuk nyambi?

Kalau dia disiplin, sudah nggak ada alasan lagi sekarang.

Melihat kondisi terkini, apa hal yang paling prioritas untuk dibenahi?

Jelas sumber daya prajurit. Sumber daya yang kita prioritaskan betul adalah rekrutmennya. Kita sekarang menggunakan metode mencegah kemungkinan orang membayar. Kita sudah punya dan akan kita lakukan pada 2014.

Mekanisme ini sempat menjadi diskusi ketat. Dan akhirnya ketemu formula yang tepat. Kita akan melaksanakan tes dalam waktu pendek dalam satu tempat tertutup sampai selesai. Dari situ langsung diumumkan siapa yang masuk. Saya yakin ini tak akan memberi kesempatan ada prajurit yang bermain-main.

Sistem ini dijamin bersih?

Mudah-mudahan. Kita sudah simulasikan kemungkinan-kemungkinan. Kalau terjadi begini, kita akan begini. Tanggung jawab diserahkan langsung kepada panglima di daerah dan danrem-nya. Kalau terbukti jelek, panglima dan danremnya akan kita copot.

khusus untuk rekrutmen perwira, kita akan proaktif, baik di akademi militer maupun di perguruan tinggi. Kita datangi universitas-universitas bagus. Kita akan berbincang-bincang siapa yang mau menjadi prajurit.

Sebelumnya, perekrutan tingkat perwira hanya dilakukan melalui pengumuman, tanpa komunikasi dua arah. Orang pandai kan harus diajak komunikasi dua arah. Dulu sebenarnya sudah dilakukan, tapi belum masif. Kalau perlu saya sendiri bisa jadi bagian yang mempromosikan.***

  ♞ Koran Jakarta  

Baca Selengkapnya ....

Satelit Militer Dianggarkan Tahun Depan

Posted by Foxtron Group 1 komentar
http://2.bp.blogspot.com/-Uzs1KYAUjAQ/UhmVma5aEKI/AAAAAAAACK4/vA_2ICQ_5Oo/s320/62083_162651197078480_100000008034354_543638_928315_n.jpg
Jakarta ( MilNas ) -  Keinginan TNI untuk terus memodernisir sistem kesenjataan dan keamanan masih saja terkendala anggaran. Ganjalan anggaran pula yang membuat rencana pembelian satelit untuk kebutuhan militer tertunda-tunda.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar Fayakhun Andriadi mengatakan, rencana pengadaan satelit militer sebenarnya sudah dibahas sejak tahun 2012 lalu. Karena saat itu anggarannya belum tersedia cukup, maka rencana pengadaan satelit hingga kini belum dapat direalisasikan.

Namun, kasus penyadapan dari pihak Australia dan AS yang terungkap belakangan ini membuat DPR dan pemerintah bersepakat perlu mempercepat pengadaan satelit militer. "Agar kasus pengadapan seperti itu, dapat dicegah dan tidak terulang," ujar Fayakhun kepada JurnalParlemen, Minggu (8/12).

Anggota Badan Anggaran DPR RI ini juga memberikan kabar gembira buat TNI. Dia mengungkapkan, biaya pengadaan satelit militer ini diperkirakan mencapai Rp 5 triliun hingga Rp 7 triliun. Anggaran sebesar itu kini sudah nangkring dalam APBN TA 2014.

Saat dilakukan rapat tertutup dengan Kementerian Pertahanan dan jajarannya di Komisi I pekan lalu, soal anggaran pengadaan satelit militer itu memang belum dibahas secara detail, baru sebatas perkiraan saja. "Namun sudah ada komitmen anggaran pembelian satelit akan dimasukkan dalam APBN TA 2014," ujarnya.

Saat ini pihak Kemenhan tengah membicarakannya dengan Kementerian Keuangan mengenai sumber pendanaan untuk pembelian satelit itu. Hasil pembicaraan itu nantinya akan dibawa Kemenhan ke Komisi I. Komisi I DPR berjanji tidak akan mencampuri teknis pengadaan satelit tersebut.

Nantinya komisi I hanya akan mengawasi saja realisasi dari hal itu, apakah sudah sesuai perencanaan atau tidak. Namun demikian, DPR berharap, satelit itu akan dibuat oleh putra-putri Indonesia. Hal ini untuk mengurangi risiko penyadapan maupun kebocoran data bila satelit dipesan di luar negeri.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, akan menindaklanjuti pengembangan sistem pertahanan siber dan memiliki satelit sendiri untuk kepentingan sektor pertahanan, keamanan, intelijen, dan luar negeri. Pertahanan siber yang akan dibangun itu nantinya berada di bawah kendali Kementerian Pertahanan untuk sistem keamanan dan pertahanan Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS), Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), dan Polri.

Purnomo menambahkan, untuk urusan siber ada dua institusi yang menangani. Yakni pertahanan siber di bawah Kementerian Pertahanan yang dioperasikan oleh TNI. Sedangkan kriminal siber itu di bawah kewenangan Polri.

  ♞ Jurnal Parlemen  

Baca Selengkapnya ....

Cuaca Buruk, 3 Heli TNI AD Mendarat Darurat di Brebes

Posted by Foxtron Group 0 komentar
BREBES ( MilNas ) -  Warga Desa Keboledan, Wanasari, Brebes, Jawa Tengah, heboh karena tiga helikopter milik TNI Angkatan Darat (AD) mendarat di lapangan desa setempat, Senin (9/12/2013).

Ratusan warga yang merasa penasaran langsung mendatangi lapangan untuk melihat dari dekat ketiga helikopter tersebut. Mereka tidak memedulikan hujan yang saat itu mengguyur.

Dakrun (50), salah seorang warga, mengaku datang ke lapangan tersebut karena sebelumnya ada tiga pesawat yang berputar-putar saat hujan turun. Setelah dilihat, tiga pesawat mendarat di lapangan desa yang tak jauh dari rumahnya.

"Pesawat dari arah barat, sempat muter-muter sampai dua kali akhirnya pas dilihat mendarat di lapangan," ujar Dakrun.

Salah seorang kru helikopter yang enggan disebut namanya, mengatakan tidak ada kendala dalam mesin, hanya hujan deras yang mengganggu jarak pandang pilot.

"Ada 12 orang awak pesawat, terbang dari Pondok Cabe, Jakarta, tujuan Semarang, demi keselamatan karena jarak pandang terganggu akhirnya mendarat," kata salah satu kru helikopter.

Tiga helikopter TNI AD, yang mendarat darurat dua adalah jenis Bell 412, dan satu berjenis Bolcow 105. Helikopter-helikopter tersebut akan kembali terbang setelah cuaca memungkinkan untuk melakukan penerbangan.

  ♞ Kompas  

Baca Selengkapnya ....